Hening Yang Berjalan adalah kumpulan puisi yang lahir dari ruang sunyi—tentang perjalanan jiwa yang tak pernah benar-benar selesai. Ditulis dalam tiga bagian: Akar, Tumbuh, dan Langit, buku ini mengajak pembaca merenung tentang kehilangan, pencarian jati diri, dan keberanian untuk terus berjalan meski tanpa arah yang pasti. Bukan untuk dibaca tergesa, tetapi untuk dinikmati dalam diam—di mana setiap baris mungkin terasa seperti milikmu sendiri.
“Sampai di sini, kita berjalan bersama. Tidak ada yang perlu disimpulkan. Di balik semua yang tertulis, ada seseorang yang pernah ragu, pernah jatuh, dan masih berjalan. Terima kasih sudah berjalan sampai sini.”